Rabu, 10 Oktober 2012

Tidur, Tidak Selamanya Menyehatkan


Semua mahluk hidup memerlukan istirahat setelah melakukan aktivitas, hal ini bertujuan untuk memperbaiki kerusakan sel jaringan hidup yang digunakan pada saat beraktivitas. Tidur mempengaruhi metabolisme tubuh dan merangsang daya asimilasi, sehingga kita tidak sehat saat tidur terlalu lama, karena tubuh kita menyerap / mengasimilasi limbah dan uap-uap kotor kembali.

Tidur tengkurap atau menelungkup tidak praktis untuk pernapasan. Banyaknya tidur pada sisi kiri badan (menghadap ke kiri) bisa menggangu kesehatan kita, karena menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak. Pernahkah anda mendengar riwayat Abu Ummah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah lewat di hadapan seorang lelaki yang sedang tidur menelengkup maka beliau menyepaknya dengan kaki beliau sambil bersabda: “bangun dan duduklah! Inilah tidurnya para ahli neraka!”.



 Jangan khawatir, Rasulullah SAW sudah mengajarkannya, “Jika kau akan tidur maka berwudhulah, kemudian berbaring atas pinggang kanan..” (HR Bukhari dan Muslim). Apa rahasia dari posisi tidur dalam hadis tersebut ?

Posisi tidur terbaik menurut sains adalah pada sisi kanan tubuh (menghadap ke kanan). Fakta ini telah diuji melalui riset medis modern yang panjang untuk membuktikan kebenaran ajaran islam, sebagaimana Rasulullah SAW menganjurkan untuk tidur berbaring pada sisi bagian kanan. Pada bagian ini, posisi tidur tidak menekan jantung sehingga aliran darah lancer, sistem metabolism tubuh pun meningkat dan rasa pegal dapat dihindari.

Lalu bagaimana dengan posisi telentang ? Abdullah bin Zaid ra pernah melihat Rasullullah SAW telentang di mesjid sambil meletakkan satu kaki di atas yang lainnya (HR Bukhari dan Muslim)

Para ahli juga mendukung posisi tidur telengat dan menganggap posisi ini baik bagi peredaran darah tapi tidak seideal posisi miring ke kanan. Selain itu, kita memerlukan bantal untuk menopang seluruh kepala hingga bagian leher. Sementara pada posisi miring ke kanan, kadang cukup ditopang dengan tangan. Jika menopang kepala dengan tangan dilakukan pada posisi telentang, rongga udara mengecil akibat efek otot yang menyokong penempatan tangan di belakang kepala. Selain tidak nyaman, aliran nafas juga terganggu.

Selamat beristirahat, semoga hari esok jauh lebih dasyat.. !!

Senin, 08 Oktober 2012

Menyundul Bola, Merusak Otak ?


Anda hobi bermain bola ? Menyundul bola dalam olahraga sepak bola merupakan salah satu strattegi untuk meng-gol kan bola ke gawang. Namun berhati – hatilah, karena aktivitas menyundul bola terlalu sering berbahaya bagi otak. Hal tersebut dibuktikan melalui pemindaian otak yang dilakukan pada 32 orang pemain bola amatir. Hasilnya ditemukan pola kerusakan otak yang mirip dengan yang dialami pasien geger otak.


 
            Terlalu sering menyundul bola juga diduga menjadi pemiu kematian pemain sepak bola Inggris, Jeff Astle (59) di tahun 2009. Ia didiagnosis menderita gangguan kognitif setelah bertahun – tahun jadi pemain bola professional. Hasil pemeriksaan koroner menunjukkan kematiannya dipicu oleh penyakit degenerative pada otak akibat terlalu sering menyundul si kulit bundar.

 Meski bola sekarang ini dipakai dalam sepak bola lebih ringan dibanding bola di era tahun 1960an ketika Astle masih aktif bermain, tetapi sebenarnya masih cukup berat. Seorang pemain bola bisa berlari dalam kecepatan 56 km / jam dalam permainan biasa dan lebih cepat lagi saat bertanding professional. Namun banyan yang sangsi menyundul bola cukup kuat menyebabkan cedera otak.

Dalam riset yang dilakukan oleh dr. Michael Lipton dari Montefiero Medical Center, ia berusaha mengungkap dampak dari terlalu seringnya kepala menyundul bola. Para peneliti menggunakan pemindai otak khusus yang dirancang untuk memvisualisasika jaringan saraf dan otak. Sebanyak 32 partisipan studi ini ditanya seberapa sering mereka menyundul bola baik saat latihan ataupun bertanding. Hasilnya mereka yang paling sering menyundul bola, yakni 1.000 kali dalam setahun, memiliki tanda cedera traumatik pada otak yang lebih kentara. Ada 5 area otak yang cedera , yakni, bagian otak depan dan belakang tengkorak kepala. Ini merupakan bagian yang memproses perhatian, ingatan, fungsi eksekutif dan fungsi penglihatan.

“Dampak negative tersebut terjadi karena terlalu seringnya menyundul bola. Akibatnya adalah sel – sel otak mengalami degenerasi”, kata Lipton. Gangguan lain dari efek cedera tersebut adalah para partisipan memiliki hasil tes yang buruk dalam bidang kemampuan kognitif seperti memori verbal dan kecepatan bereraksi.

*dikutip dari majalah Cegak edisi Desember 2011 yang diterbitkan oleh RSUP M.Djamil Padang.

Menurunkan Berat Badan Tanpa Diet

Anda sedang menjalankan program diet ? Sekarang banyak metode diet yang ditawarkan, meskipun banyak mode diet yang dapat membantu menurunkan berat badan, tetapi beberapa diantaranya dianggap kurang efektif karena justru membuat Anda merasa kelaparan dan kurang asupan makanan.


Menjalankan program pelangsingan tidak berarti bahwa Anda harus mengurangi asupan makanan atau bahkan puasa makan. Jika Anda ingin langsing dengan cara yang sehat dan tidak menyakitkan, cobalah strategi berikut yang Penulis kutip dari majalah Cegak edisi Desember 2011 terbitan RSUP M. Djamil Padang :
 
  1. Lebih banyak mengunyah
Studi menunjukkan bahwa semakin lama waktu yang Anda gunakan untuk mengunyah, maka semakin sedikit jumlah kalori yang Anda konsumsi. Mengunyah lebih lama mencegah seseorang untuk makan berlebihan dengan memberikan otak lebih banyak waktu untuk menerima sinyal dari perut yang penuh. Hal ini tidak hanya bagus untuk mencerna, tetapi juga membantu dalam membatasi ukuran porsi Anda. Cobalah mengunyak makanan Anda 35 – 50 kali di mulut.

  1. Jangan lewatkan sarapan
Sepadat apa pun aktivitas Anda, sebaiknya sempatkan waktu untuk sarapan pagi. Ingat, tubuh Anda bukanlah otak. Tubuh perlu mengisi bahan bakar beberapa kali setiap harinya. Apabila Anda melewatkan sarapan, Anda akan merasa begitu lapar sehingga saat makan siang tiba, Anda cenderung makan berlebihan atau mungkin memilih jenis makanan yang tidak sehat. Melewatkan waktu sarapan dapat memperlambat proses metabolisme dalam tubuh.

  1. Berkonsentrasi pada makanan
Berapa kali Anda ditegur oleh orang tua untuk tidak berbicara, membaca, atau menonton TV saat makan ?  Teguran ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, ketika Anda makan sambil bicara atau menonton TV, otak Anda tidak akan fokus pada jumlah makanan yang Anda konsumsi dan Anda lebih cenderung untuk mengkonsumsi lebih banyak makanan.

  1. Jangan masak terlalu lama
Memasak makanan terlalu lama akan membunuh atau mengurangi jumlah nutrisi. Dan ketika Anda tidak mendapatkan nutrisi yang cukup, Anda tidak akan merasa puas dan mulai mencari cemilan yang tidak sehat. Untuk mengatasai hal ini, cobalah makan lebih banyak makanan mentah seperti salad dan hindari penggunaan micro-wave.

  1. Konsumsi buah sebelum makan
Dianjurkan untuk makan buah setidaknya 30 menit sebelum makan berat. Dengan cara ini, buah akan dicerna dengan cepat. Makan buah ketika perut kosong akan membantu detoksifikasi dan memasok energy lebih banyak untuk menurunkan berat badan.

  1. Sedikit makan, tapi sering
Idealnya, Anda harus makan 5 – 6 kali per hari. Makan lebih sering baik untuk menjaga metabolism tetap bekerja pada tingkat yang lebih tinggi terus – menerus sepanjang hari. Tapi, jangan menggunakan aturan ini sebagai alasan untuk makan berlebihan.

  1. Stop makan setelah jam 8 malam
Berhenti makan setelah lewat jam 8 malam adalah cara terbaik untuk mencegah kebiasaan ngemil di tengah malam. Jika Anda merasa sulit untuk menerapkannya, cobalah untuk menegak secangkir teh atau gosok gigi Anda setelah makan malam dan alihkan pikiran Ada dari makan.

Semoga bermanfaat, diet itu tidak menyiksa !!

Kamis, 27 September 2012

Kisah Inspiratif II : Ketika Ukhuwah Berkisah

           Menjalani kepaniteraan klinik selama 17 bulan, menghadirkan beragam kisah yang layak untuk diceritakan, nikmat untuk dikenang, tidak untuk diulang. Stase daerah, waktu yang kami tunggu sebagai dokter muda, hampir semua bagian memiliki RS jejaring yang menjadi lahan pembelajaran kami. Sejenak waktu berlibur, setidaknya aktivitas akademik tidak sepadat di RS pusat pendidikan. Di RS jejaring, dokter muda lebih banyak mendapatkan tindakan karna tidak perlu berlomba dengan kehadiran residen, kalaupun ada mereka akan jadi  pembimbing dan sahabat selama satu atau dua minggu. Setidaknya merasa lebih terhormat, tak lagi mendengar teriakan “cooooaaaasssss”, bahkan di beberapa RS kami diberi fasilitas yang bisa dinikmati dokter muda, mess yang lengkap dengan isinya, makan 3 x sehari, laundry, dah serasa jadi dokter sungguhan..
            Bersabarlah, empat minggu harus menunggu jadwal stase daerah ku, dan saat menyiapkan bekal selama menjalani stase bedah di kota Padang ini.  Menempuh 3,5 jam bukanlah waktu yang lama, keelokan rupa alam membuat kami terlupa akan jauhnya perjalanan. Saat-saat menyaksikan puing reruntuhan sebagai saksi gempa 30 September, saat-saat memandang hijaunya hutan lindung yang ditemani gemericik air sungai menyapa bebatuan, saat-saat melihat cantiknya air terjun Lembah Anai yang jatuhnya tepat di tepi jalan yang kami lewati, saat – saat menghirup segarnya udara Padang Panjang, saat kami melewati tepian kota Bukittinggi yang menghadirkan aura kalau ia pantas dijuluki kota wisata..
            Jam tangan ku mengabari pukul 19.00 WIB, saat travel yang kami tumpangi memutar arah ke kiri, memasuki komplek RSUD Adnan WD Payakumbuh. Dua minggu ke depan, akan menjalani stase Bedah di sini. Serasa pindahan rumah, tidak hanya pakaian, satu kardus mie instan yang berisi buku Bedah tak mau ketinggalan. Hanya ada tiga dokter muda yang ditugaskan, sedang yang lain menyebar di 4 RSUD lainnya dan ada yang bertugas di Padang. Alhamdulillah, mujurku ditempatkan bersama dua orang akhwat, Ukht Nae dan Oca, setidaknya kesamaan pola pikir kami, membuatku lebih terjaga dalam ibadah dan member kesempatan bagiku untuk menjalankan misi lainnya tanpa harus meninggalkan tujuan utama “kepaniteraan klinik bedah”.
            Kami diberikan dua ruang yang dijadikan sebagai kamar dokter muda, tepat di atas IGD, ruang berukuran 4 x 5 lengkap dengan AC-nya. Selain kami, ada enam dokter muda bagian Anak yang berpraktek di RSUD Adnan WD ini.
***
            Payakumbuh, kota yang tak asing lagi bagiku, hanya sebuah kota kecil yang sangat dekat dengan provinsi tetangga . Seusai pendidikan di kampus, dua bulan mesti mengikuti program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di tepian kota ini, berinteraksi dengan beragam jurusan, sedangkan aku sendiri membawa misi  dalam membina dokter kecil, gerakan jamban sehat,dan mengaktifkan posyandu, cukup baik sambutan dari masyarakat. Tak perlu canggung untuk kembali ke kota ini. Empat bulan yang lalu, seminggu lamanya aku menjalani stase Anak di d “Kota Batiah” ini, cukuplah untuk mengenal suasana RSUD Adnan WD, RS tipe C yang juga dijadikan wahana dokter internship, senior ku angkatan 2004 yang mesti mengikuti program internship perdana di Indonesia.
***
Senin pagi berkisah, pukul 07.00 WIB, tiga orang dokter muda melangkah ke bangsal Teratai, sebutan untuk bangsal bagian Bedah, mem-follow up pasien yang semalam telah kami, tiap dokter muda akan melaporkan pasiennya saat visite dengan konsulen nanti. Itupun kami lakukan, hanya 16 pasien dibagi 3, berarti 6 pasien yang mesti ku periksa pagi ini, tentunya setelah mempelajari status pasien yang jadi tanggung jawabku. Mendapat cerita turun – temurun, kalau konsulen hari ini dr. Agus Sp.B yang selalu visite dengan bahasa Inggris kepada dokter muda yang memberikan laporan. Seharusnya amat beruntung, selain tantangan, setidaknya kami tidak malu jikalau ia sedang marah dengan bahasa yang kami harap tidak dimengerti sang pasien.
Satu per satu ku follow up - i, terakhir Tn.Nadran, pasien laki-laki 66 tahun, menempati ruang kelas I dengan diagnosa selulitis. Ruangnya tepat di pintu masuk, ku lihat ia masih berselimut. Ku minta istrinya untuk membangunkannya. Di awali dengan perkenalan diri sebagai dokter muda yang bertugas 2 minggu ke depan,  amat bersahabat kesan pertamaku. Kakinya yang ditinggikan terlihat masih sedikit bengkak dan berwarna kemerahan. Setelah ku follow-up, sama seperti pasien yang lain, tak lupa ku tinggalkan nomor handphone ku pada nya, sambil meninggalkan pesan, “Pak, tiap hari kita akan bertemu, jika ada apa-apa dan butuh bantuan, Bapak bisa menghubungi nomor saya ini..”
Seorang laki-laki seumuran Ayah ku masuk ke bangsal. Dr.Agus Sp.B, konsulen yang kami tunggu. Dilihat dari parasnya jauh terkesan lebih muda, dibalut jeans dan kemeja serta komunikasinya yang humoris. Kamipun memperkenalkan diri, sebagai dokter muda yang akan praktek 2 minggu menggantikan kawan sejawat kami sebelumnya.
Dag..dig..dug.., melangkah ke ujung bangsal, kami pun bersiap-siaga melaporkan tiap pasien. “Harap dimaklumi saja jika saat diskusi akan membuat Bapak tertawa dengan kemampuanku, karena untuk visite saat ini tentu telah kusiapkan dan laporannya pun telah ditranslate sebelumnya”, pikirku dalam hati. Ternyata tak separah cerita, sesekali ku selipkan bahasa Indonesia, karna kosa kata ku telah terbentur dengan ketidak tahuan. Sampai jua ke pasien terakhir, Tn.Nadran..
Saat pintu ruang dibuka, “How are you to day ?”, ujar dr.Agus memulai visite.. “Alhamdulillah, I am healthy. It’s nice to meet you again Sir. My leg has been better, I have stopped smoking. When can I go home ?..”, ujar Tn.Nadran. Mereka pun berinteraksi berdua dengan akrab, tanpa mesti ku laporkan dan terkesima dengan kemampuan bahasa Inggris Tn. Nadran.
Lima hari lagi, Tn.Nadran direncanakan pulang, berarti kami akan kehilangannya, tiada ada lagi percakapan dengan bahasa Inggris antara pasien dan dokter, tiada lagi pasien yang akan kami dengarkan cerita-cerita masa lalunya. Kami bertiga telah menganggapnya sebagai kakek sendiri. Saat - saat pagi membangunkan tidurnya dan menanyakan sholat Subuhnya, saat – saat mendapatinya merokok diam – diam dan akhirnya rokoknya mesti kami sita.
Sabtu pagi kelabu.. Saat Tn.Nadran akan pamitan untuk pulang ke rumah, ia menawarkan untuk berkunjung ke rumahnya yang hanya 30 menit dari RS. Tidak terlalu jauh, kami pilih hari Kamis depan untuk silaturahim ke rumah, sekalian buka puasa di sana.
***
            Kamis siang, ia menelpon ku, jam 17.00 WIB  kami akan dijemput, dan diminta untuk bersiap – siap. Tak lupa memberi tahu dokter jaga dan perawat, meminta izin berkunjung ke rumah pasien, secara tidak langsung izin untuk tidak bertugas selama 3 jam di IGD. Benar adanya, menjelang waktu yang dijanjikan Tn. Nadran sudah datang, mengendarai mobil pribadi ditemani istri dan cucunya. Sejenak kami singgah di Pasar Ibuah, untuk membeli buah dan beberapa catatan di kertas yang memang sudah disiapkannya dari rumah.
 Jika pernah berkunjung ke Payakumbuh, maka tak sulit untuk menemukan rumah Tn.Nadran yang berdekatan dengan pemandian Batang Tabik. Namun, karna kami bertiga belum pernah ke objek wisata ini, maka perjalanan Kamis sore menjadi suasana yang baru.
            Rumah tua berlantai dua, terkesan lebih besar dibanding rumah penduduk sekitar. Hanya ditempati oleh mereka berdua, sedang dua anaknya merantau, sesekali si Wawan, cucu dari anak sulungnya yang menemani tidur di rumah. Ukhti Nae dan Oca langsung diajak menuju dapur buat menyiapkan makanan sedangkan aku tetap di ruang keluarga berbincang dengan Tn.Nadran - sang kakek sambil menyaksikan berita sore yang disiarkan TV.
Azan pun berkumandang, pertanda saatnya waktu berbuka. Menu malam ini : gulai ayam, telur dadar, tumis kangkung dan sambalado teri menemani makan malam kami. Berbaur dalam suasana kekeluargaan, membuat masakan terasa lebih nikmat. Sesekali sobatku Oca mendokumentasikan lewat kamera handphone nya. Rasa ingin bermalam di sini, namun jam telah menunjukkan pukul 20.00 WIB, kami pun mesti kembali untuk melanjutkan tugas jaga, karna hal ini menyangkut attitude dan tanggung jawab.
Kembali ke rumah sakit, kali ini ukhti Oca yang bertindak sebagai sopir, karna diantara kami bertiga hanya beliau yang bisa mengendarai mobil. Kenangan yang tak terlupa, malam ini mengakhiri perjumpaan kami dengan Tn.Nadran.
***

Ketika ku baca firmanNya, “sungguh tiap mukmin bersaudara”
Aku merasa, kadang ukhuwah tak perlu dirisaukan
Tak perlu, karena ia hanyalah akibat dari iman (Salim A.Fillah)

            Ketika ukhuwah berkisah, segalanya adalah cermin dan pembelajaran. Memahami akan nikmatnya interaksi, tak mesti ada perbedaan antara dokter - perawat - pasien, semua meleburkan diri dalam kajian simbiosis mutualisme. Mengisahkan jejak - jejak impianku, saat - saat menyapa pasien di tiap pagi, saat tak ada kekhawatiran memberikan nomor handphone ku, saat senantiasa mengingatkan ibadahnya, saat membawakan makanan seadanya di tiap follow up harian, saat berkunjung ke rumah mereka, saat pertemuan kami mengubah jalan cerita dokter muda - pasien menjadi hubungan kakek – cucu, orang tua – anak, adik – kakak, dan persahabatan.. 

*Tulisan karya dr. Poby Karmendra ini terangkum dalam antalogi kisah nyata inspiratif  "Jalan Menuju Dokter Muslim" yang diterbitkan oleh Indie Pro Publishing pada awal 2012 dan telah masuk pada cetakan ke II.

Kisah Inspiratif : Dari Balik Dinding Pesantren


Kawan, sejenak kita hentikan pembicaraan karna handphone ku berdering, tanda ada SMS masuk. Pesan dari 0831815xxxxx, nomor pengelola wisma, sejenak ku bacakan biar engkau bisa mendengarkannya :
“Sebuah tempat tinggal bernama wisma, menjalin ukhuwah dan kebersamaan untuk sebuah cita – cita mulia. Tempat belajar untuk saling menghargai dan menghormati saudara. Belajar untuk bisa saling memahami dan menasehati. Pelepas lelah dan letih di tengah kesibukan kampus dan rumah sakit yang luar biasa. Tempat menumbuhkan kembali bibit – bibit semangat yang telah terkikis karena berbagai kesibukan yang ada. Ikhwafillah, ana yakin kita semua pasti tahu dan sadar bagaimana kondisi wisma sekarang ini. Fungsinya sudah jauh melebar dari apa yang seharusnya. Ikhwafillah, mari bertekad untuk memperbaiki fungsi wisma kembali. Mulailah dari diri kita pribadi.
1.      Perbaiki diri untuk semakin dekat dengan Allah karena keshalehan kita bisa berpengaruh bagi saudara kita.
2.      Mari tumbuhkan kembali semangat bahwa wisma adalah rumah kita yang harus dijaga kebersihan dan kenyamanannya.
3.      Mari hiasi wisma di waktu luang untuk tilawah qur’an, belajar, diskusi tentang kebaikan dan silaturahim.
4.      Mari saling mengingatkan untuk kebaikan.
By : BPW (Badan Pengelola Wisma) FK UNAND, berbenah untuk masa depan wisma yang cemerlang.”
SMS kali ini menyadarkan ku dengan keadaan wisma saat ini. Mesti tak lagi jadi bahagian pengelola, namun keadaan sekarang tak bisa terlepas dari posisi ku sebagai santri yang paling senior di sini, sudah 5 tahun. Wisma begitulah kami menyebutnya, sebuah pesantren mahasiswa yang dimiliki tiap fakultas. Kedokteran memiliki 3 wisma ikhwan dan 7 diperuntukan bagi akhwat , ia dikelola oleh Badan Pengelola Wisma. Tak jauh berbeda dengan kontrakan, hanya saja di sini terdapat aturan dan program pembinaan, biasanya selalu ditawarkan saat Bimbingan Mahasiswa Baru (BIMBA), jika setuju maka sang junior akan ditempatkan di wisma berbaur dengan penghuni lama yang berlatar angkatan dan daerah yang berbeda.
***
            Sabtu siang, akhirnya usai jua mengikuti tes TOEFL di Auditorium UNAND setelah melakukan kesalahan besar dengan datang terlambat. Masih ingat dalam ingatanku, matahari terik memanasi ubun – ubun kami saat sampai di kampus Jati, begitulah orang mengenal lokasi kampus kedokteran yang terpisah dari kampus pusatnya di Jerman – Jeruk Manis (red : Limau Manih). Butuh 45 menit perjalanan dengan bus kota karena mesti melewati Pasar, ditemani bunyi musik yang memecahkan gendang telinga, namun sepertinya telah menjadi ciri khas bus kota.
            Terlihat tak begitu besar, gedung putih berbentuk bundar menyapa kehadiran kami, sepertinya inilah rupa gedung utama. Kami hanya bertiga datang ke Jati, aku seorang diri dan kawan ku  Yusuf, seorang mahasiswa baru yang ku kenal sejak SMA, ia datang bersama bapaknya yang berperawakan seperti seorang datuk. Datangnya kami ke Jati, hanya untuk mencari tahu keberadaan wisma Ababil.
            Langkah ku berlanjut ke dalam kampus, sempat tertipu dengan penampilan luarnya, kampus yang sangat panjang.  Berjalan perlahan sambil memandangi mahasiswa berseragam hitam - putih, jelas sekali parasnya sebagai mahasiswa kedokteran, tak lepas buku dari tangan mereka, asyik sekali bercerita, sesekali ada yang bersorak, sepertinya sedang membahas soal ujian yang baru usai mereka hadapi. Ragu untuk bertanya, saat bingung melanda ku dapati dua orang berbaju koko berjalan memasuki gerbang kampus FK, serupa benar gayanya dengan mentorku waktu di SMA. Ku dekati mereka sambil mengajak Yusuf dan bapaknya.
            “Assalamu’alaikum, Bg kenalkan saya Poby mahasiswa baru 2005”, sambil bersalaman dan memperkenalkan Yusuf..
            “Ya Dek,saya Randi biasa disapa Bubuy angkatan 2002 dan ini Mukri angkatan 2004, ada yang bisa dibantu ?”, jawabnya penuh keakraban.
            “Saya mau cari wisma Ababil, mentor saya di SMA menyarankan untuk tinggal di  wisma Ababil saja jika lulus kedokteran”, tanya ku
            “Oo..wisma Ababil sudah tak ada lagi Dek, yang ada wisma Tarbawi  di komplek PJKA, abang juga tinggal di sana, nanti abang antar. Sudah sholat Dzuhur ? yuk, kita ke belakang dulu, mungkin anak – anak wisma juga lagi kumpul di sana..” ia pun memberi sedikit penjelasan, sambil melangkah ke mushala Asyifa.
            Usai dzuhur, diperkenalkannya kami dengan beberapa mahasiswa lainnya, mereka aktivis kampus,  pengurus Forum Studi Kedokteran Islam (FSKI) seperti Rohis di SMA ku. Tak lama menunggu, seorang mahasiswa  angkatan 2003 mengantarkan ku ke wisma yang dimaksud. Aulia Rahman, mahasiswa asal Pekanbaru yang cukup kharismatik. Perjalanan yang cukup melelahkan, agar tak terlalu memutar jalan, kami diajak mengambil jalan pintas meniti pematang sawah. Rasa penasaran memenuhi ruang pikiranku..
            Rumah bertuliskan “ahlan wa sahlan, Wisma Tarbawi”, menegaskan ini rumah yang dimaksudkan,  tidaklah  terlalu besar, terkesan sederhana, lantainya hanya dengan semen biasa, ku pandangi sekeliling ruang, sebuah ruang lepas berukuran 4 x 5 meter, ada papan pengumuman, ada 4 buah kamar yang saling berhadapan.  Kedatangan kami sepertinya sudah ditunggu, karna saat kami tiba, sudah berkumpul beberapa orang penghuni wisma. Mereka menyambut kami dengan penuh akrab, berbaur dalam kekeluargaan, suasana yang tidak asing lagi bagiku karna saat masih SMA, selalu ku sempatkan datang ke wisma Faterna jikalau ke Padang , sebuah wisma milik mahasiswa Peternakan,dan di sanalah tempat tinggal mentorku saat SMA.
            “Dek, selamat datang di wisma Tarbawi, abang – abang di sini dari berbagai angkatan dan asal daerah. Silahkan nanti berkenalan. Di sini tidak bisa bebas seperti di kontrakan, kita memiliki aturan dan program. Jika sholat mesti ke mesjid, tiap pagi kita ada taklim, tiap senin – kamis puasa sunnah bareng – bareng. Adik – adik bisa numpang di sini selama 1 minggu, jika merasa kurang cocok, kami akan bantu carikan tempat tinggal.. Oh ya, jika adik butuh buku – buku bisa dipinjam punya abang – abang..”, ujar bang Aulia menjelaskan sangat rinci seperti seorang salesman menawarkan barang dagangannya..
            “Afwan Bang, mau bertanya, tapi jawab jujur ya ?”, kata ku serius..
            “Ya, ada apa ?”
            “Apa benar ini wisma ikhwah ? mentor saya bilang wisma ikhwah di sini bernama wisma Ababil..”, tanyaku
            “hahahaha.., iya Dek, ini wisma ikhwah, lihat itu..”, jawab bang Aulia sambil menunjuk ke pintu kamarnya, dan yang lain spontan tertawa..
***
Lima tahun kemudian
            Kawan, mengingat kembali kisahku lima tahun yang lalu. Dan kini, posisiku telah menggantikan bang Aulia, kini ia telah berpraktek dokter di Duri . Masih di kamar yang sama, dulu ia yang menemaniku, sedangkan kini aku telah menggantikan posisinya sebagai santri senior di wisma..          
            “Assalamu’alaikum, sendirian aja Dek, masih panas?”, ujarku menyapa Akbar sambil mengganti pakaian dinasku. Akbar, mahasiswa tingkat dua yang sejak kemaren mengalami panas tinggi..
            “Ya bang, yang lain masih di kampus, udah agak mendingan, terakhir 38 0C udah mendingan dari kemaren..”..
            “Udah makan Dik ? Abang suapi ya..”, tawarku..
            “Belum bang, tadi nitip makanan tapi Ari belum juga pulang..”, jawabnya
            Usai berganti pakaian, ku siapkan nasi buat Akbar, kebetulan ada sambal yang sempat ku beli di warung sebelum pulang. Ku suapi ia sambil menceritakan kejadian yang ku alami hari ini di rumah sakit, maklum saja aku juga sedang menjalani pendidikan klinik di bagian Obstetri - Gynekologi RSUP Dr.M.Djamil Padang. Beginilah kami memaknai arti ukhuwah di wisma, seperti Akbar yang sudah serasa adik kandung ku sendiri.
***
Padang, 28 Januari 2011
            Kawan, sore ini hujan masih hengkang dari kota Padang, cuaca tak bersahabat untuk melangkahkan kaki menuju mesjid Al-Hidayah, satu – satu nya mesjid komplek.  Di sebuah ruang,  enam orang santri menggelar sajadah di ruang tengah untuk Maghrib berjamaah. Wisma Al-Quds, disinilah aku berada. Rumah dengan tiga kamar, tidak terlalu besar, cukuplah rasanya untuk ditempati enam orang, tak berapa jauh dari Wisma Tarbawi , namun lebih dekat dengan pagar kampus. Kemudian teruslah berjalan,  jika bertemu pertigaan, ikuti petunjuk jalan, jelas tertera jalan Mandailing, sekitar 500 meter darinya kita akan temukan wisma Ibnu Sina. Jika kawan tak hendak pulang, maka bermalam lah di sini, setidaknya untuk mendapatkan kehangatan ukhuwah di dalamnya..
            Kawan, mungkin sedikit berbagi cerita, sudah sejak lama orang tua ku menyarankan agar keluar wisma, memilih kontrakan saja. Mereka amat khawatir jikalau aku terperangkap dengan ajaran sesat seperti berita yang hangat dibicarakan. Dengan penuh yakin, ku berikan penjelasan..
            Kawan, engkau mungkin mengira hidup kami tanpa masalah, kami juga mahasiswa seperti mahasiswa lainnya, lahir dari rahim yang berbeda, rambut sama hitamnya tapi beda pemikiran, kami pernah salah, pernah bertengkar, pernah jengkel, pernah juga futur dalam beribadah seperti yang lain.. Tetapi di antara kami, masih ada yang sabar mengingatkan, ada yang mengalah, ada yang menyeimbangkan suasana sehingga saat kau datang ke sini, terasa amat menyejukkan..
            Kawan, jikalau nanti adik mu lulus di kedokteran, tawarkan saja bersama kami. Yakinlah, keluarga mu tak perlu terlalu khawatir, kami akan menjaganya seperti adik sendiri. Seperti yang kau lihat, aku menemukan abang,, mendapatkan adik di sini.
            Saat suara azan mendayu membangunkan pagi, saat – saat itu kami melangkah bersama ke mesjid sambil bercengkrama. Saat menunggu terbitnya mentari, saat – saat kami membentuk lingkaran keimanan dengan agenda harian. Saat senin dan kamis hadir menyapa, saat - saat menikmati kebersamaan dalam santap sahur dan berbuka. Saat malam minggu memanggi, saat – saat kami menghabiskan malam dengan mabit di mesjid kampus. Saat ada waktu luang, saat – saat itulah kami agendakan untuk rihlah, jogging ke pantai, dan sesekali membersihkan rumah kami. Saat kau kembali ke kampus mu, berceritalah tentang apa yang kau lihat di sini, meskipun banyak yang harus dibenahi tapi kami telah memulai cerita..dari sini..dari balik dinding pesantren..

*Tulisan karya dr. Poby Karmendra ini terangkum dalam antalogi kisah nyata inspiratif  "Jalan Menuju Dokter Muslim" yang diterbitkan oleh Indie Pro Publishing pada awal 2012 dan telah masuk pada cetakan ke II.