Kamis, 27 September 2012

Cerpen Kedokteran : Dokter "Bujang"


Teringat waktu masa kecil dulu, di sekolah, di rumah, di sekolah tempat orang tua ku mengajar, dimana saja, jika ada yang nanya : “kalo udah besar mau jadi apa?”. So pasti dengan mantap tanpa ragu  akan ku jawab dengan senyum sumringah : “Jadi doktel”, pas udah gede dikit, disaat gak cadel lagi : “jadi dokter !”.
            Di sekolah, buat menghangatkan suasana, biasanya guru TK dan SD kelas I suka melontarkan pertanyaan yang hampir sama : “Anak-anak, siapa yang mau jadi dokteeeerrrrr??”. Trus dengan polos, dengan sedikit bloon tapi penuh semangat, hampir seluruh isi kelas akan menjawab : “saya buk.. saya buk.. saya buk…” tentu saja dengan ngangkat tangan tinggi-tinggi, berlomba siapa yang lebih tinggi mengacungkan tangan (serius, sampe ada yang pengen manjat meja, biar acungan tangannya paling tinggi), seolah-olah siapa yang acungan tangannya paling tinggi, dialah yang paling berhak jadi dokter.. ^^
            Waktu zaman co-ass dulu, ingin rasanya kembali ke masa lalu, kalau bisa kembali ke masa  kecil dulu, saat ibu guru bertanya di depan kelas. Kalau beliau nanya lagi :”anak-anak, siapa yang mau jadi dokteeeerrr??”. Mungkin aku akan langsung teriak histeris dan ngumpet ke bawah meja, sambil berteriak : “saya gak mau jadi dokter buk, saya gak mau.. saya mau pilih jurusan lain saja buk !! Plizz buk, jangan paksa saya.. (terlalu lebay..)
 Kenapa aku pengen jadi dokter ?  Dulu banget, waktu aku masih sangat kecil, nenek sering  bercerita betapa gagahnya kalau bisa jadi seorang dokter dan berharap salah satu cucunya bisa jadi dokter, orang tua pun sering bercerita kalo menjadi dokter itu adalah pekerjaan yang mulia dan bisa dapat banyak pahala. Entah kenapa kata mulia dan pahala bagi ku adalah kata yang terasa wah waktu itu, padahal tidaklah terlalu paham. Seperti didoktrin kalau dokter adalah sosok yang luar biasa dan keinginan untuk membuat keluarga bangga, akhirnya aku pun membulatkan tekad berjuang untuk menjadi dokter. Terlebih harga jual dokter di kampung kami amat lah tinggi, sebuah kebiasaan adat bahwa semakin tinggi pendidikan, semakin mahal harganya saat hendak menikah nanti, dan itu hanya berlaku pada kaum laki – laki saja.. (beruntungnya jika aku jadi dokter, pikiran di masa lalu..)
Beranjak dari menempuh pendidikan di SMA, cita-cita ku masih belum berubah, tapi bedanya sekarang ditambah dengan ego. Ego untuk membuktikan pada semua orang bahwa aku pintar. Mungkin inilah kebodohan ku selanjutnya. Dan skenario Allah pun sama dengan keinginan ku, lulus sebagai mahasiswa undangan di jurusan pendidikan dokter sebuah Universitas ternama di pulau Jawa. Entah kenapa kata "mahasiswa undangan" di kampung ku, benar - benar kata yang menakjubkan..
***

            Tak sabar rasanya untuk pulang dan menemui  Emak, maklumlah sekolah ku berada di luar daerah, sekitar 3 jam dari kampung. Emaklah yang sangat berharap aku menjadi dokter, saat di atas gendongannya, ia selalu menidurkanku dengan nyanyian yang baitnya dikarang sendiri untukku, kata ni Yan pengasuhku, baitnya berisi harapan agar anak semata wayangnya kelak menjadi dokter. Oh ya, setelah turun mandi, Abak memberikan nama Reza Pahlevi, tapi sapaan Bujang tetap saja melekat sampai saat ini. Bujang, sapaan bagi laki-laki di kampung kami.
Bujang duduk memandangi halaman rumah dari balik jendela. Pandangannya bercahaya memandang ujung jalan, tak sabar menunggu kepulangan Abak dan Emak. Sudah lama ia mengidam-idamkan untuk bisa kuliah di Fakultas Kedokteran, bercita-cita ingin menjadi seorang dokter seperti cerita nenek dan Emak sewaktu kecil. Ia ingin setelah jadi dokter nanti bisa mengabdikan di kampung. Masih menunggu kedatangan Abak dan Emak yang berkunjung ke rumah saudara, menggenggam amplop yang berisikan surat undangan untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran ternama di negeri ini.
Kini, ia tak sabar melihat ekspresi kedua orang tuanya, anak lelaki semata wayang mereka akan siap menjadi orang. Siapa yang tak senang mendengar anaknya  menjadi lebih baik, namun di kampung kami gelar dokter amatlah bernilai tinggi. Bukan hanya disegani, tapi bernilai jual saat akan dinikahkan. Emak saja dulu membeli Abak dengan sepeda motor karna Abak bertugas sebagai pegawai negeri. Bayangkan saja jika seorang dokter akan dinikahkan, uang hilang yang harus dikeluarkan calon istrinya bisa seharga mobil merek terkenal di negeri ini.
            Dari kejauhan suara motor Abak terdengar jelas, dan aku bergegas menuju teras.
“Bujang..sudah lama Nak ?”, ujar Emak
“Setengah jam yang lalu Mak..!, jawabku sambil menyerahkan amplop coklat yang sejak tadi ku genggam..
Emak membukanya dengan tenang, sambil tersenyum melihat Abak, “Alhamdulillah ya Nak, Emak sudah yakin engkau akan diterima, sebenarnya seminggu yang lalu, Abak dan Emak sudah tahu dari Pak Yulson, tapi sengaja kami diamkan saja biar engkau sendiri yang membuka amplopnya..”
“ya Mak, tapi uang masuknya cukup besar..”, tegas ku..
“Aman tu Jang, Abak telah menabung sejak lama untuk kuliah mu..”, jawaban Abak melegakan ku..
“Kapan engkau akan pergi Nak ?, mungkin hanya Abak yang bisa mengantar mu karna Emak mesti ikut pelatihan minggu depan di dinas propinsi..”, ujar Emak, jelas di wajahnya ada kesedihan karena tidak bisa mengantarkan ku ke tanah Jawa.
“Daftar ulangnya tanggal sembilan Mak, jadi tiga hari lagi kita mesti berangkat”, jawabku..
Sambil melangkah ke dalam, Abak berkata pada Emak, “Pit, kapan engkau bisa memasak? Kita bado’a sebelum kami pergi..”.
“hari Senin lah Da, biar Minggu Pit ke pasar dulu. Nanti kau temani Mak ya Nak”, ia melirikku..
“Ya Mak”
“Sekarang kau tidurlah dulu, nanti malam kita ke rumah Pak Etek mu”..
Aku pun mengangguk, tanda mengiyakan perintah Emak..
***

Suara adzan Subuh terdengar syahdu dari mesjid kampung. Suara yang terdengar keras dari corong loudspeaker  seakan memantul di barisan bukit-bukit yang berjejer rapi, lalu terbang ke angkasa memenuhi langit kampung ku dengan kedamaian dan ketenteraman. Seperti biasa, aku dan Abak tak ingin ketinggalan shalat berjama’ah, walau siang sibuk mencari penghidupan, di malam dan Subuhnya jadi waktu yang tepat untuk berkumpul dengan penduduk lainnya. Tiba – tiba ada tangan yang menepuk pundak ku..
“eh Angku..”, sapaku sambil mencium tangannya, Angku Rajo Lelo seorang pemangku adat di kampung kami yang sangat disegani.
“Angku dengar, engkau mau jadi orang, setiap sudut kampung membicarakan engkau. Lulus dimana kuliah mu Jang ? Apa jurusan yang engkau pelajari di Jakarta nanti ?”, tanya Angku..
“Alhamdulillah lulus di Pendidikan Dokter, insyaAllah nanti siang Ujang berangkat ke Jakarta bersama Abak, mungkin sekarang Ujang sekalian pamit Ngku”, jawab ku pada Angku dengan nada sedikit keras, maklumlah pendengaran Angku sudah berkurang, sepantasnya juga saat usia beliau yang sudah masuk kepala tujuh.
“Pendidikan dokter ? ada ya sekolah untuk jadi dosen? Mau seperti Abak mu juga? Kenapa engkau tak sekolah dokter umum saja?”, ia menghujani ku dengan pertanyaan..
“Iya Angku, jurusannya Pendidikan dokter, nanti tamatnya jadi dokter umum, beda sama IKIP yang di Padang”, berharap penjelasan ku bisa dimengerti olehnya..
“Baguslah, jangan kau lupakan kampung ini, hati – hati di Jakarta, siapa pula gadis di kampung ini yang bisa membeli engkau nanti ya Jang, akan lepas ke daerah lain pula engkau tampaknya. Lihatlah si Fuad, setelah ia jadi dokter, hanya sesekali ia pulang ke sini, itupun tak pernah ia berkumpul lagi di lapau kopi, mungkin merasa malu karena terjual murah..”, untuk sekian kalinya aku mendengar komentar yang sama..
“Ya Angku, terima kasih, mohon do’anya juga”, ucapku sambil manggut – manggut mengiyakan petuahnya..

Tak lama berselang, matahari merambat naik di ufuk timur. Perlahan siang mulai membentangkan cahayanya. Semua binatang telah memulai aktivitasnya, kecuali kelelawar, binatang ini baru saja masuk dalam tidurnya setelah semalaman terbang melayang-layang dengan suara yang membikin gaduh. Suasana kampung mulai hidup kembali. Berarti tidak cukup dua jam lagi, aku akan meninggalkan kampung, berat juga rasanya..
Dengan meminjam mobil Mayang Taurai, seorang kaya di kampung kami, aku dan Abak diantar ke bandara Tabing.  Memulai hidup di negeri orang, belumlah pantas rasanya disebut pemuda Minang, jikalau belum merantau, karna merantau telah jadi suatu keharusan bagi pemuda di sini, “Marantau bujang dahulu, di rumah baguno balun” ..
Menuju Jakarta, tentulah membuatku canggung seorang diri di negeri orang. Menjadi anak kost adalah perjuangan, harus menunggu waktu libur yang cukup untuk pulang. Menjadi anak kost adalah perjuangan, tapi kuliah di jurusan Pendidikan Dokter bukanlah sebuah kebetulan bagi ku. Hanya sebuah kekhawatiran yang menyelimuti ku, banyak aku mendengar tentang kesehatan, termasuk rokok yang sudah bertahun aku hirup asapnya dari Abak di rumah. Aku harus mampu untuk mengumpulkan ilmu, kekuatan, dan niat untuk meminta Abak untuk berhenti merokok, mengingat usia orang yang kucinta itu sudah lima puluh, dan kini ia tertidup lelap di samping ku. Suatu ketika, waktu libur dan pulang ke rumah nanti adalah waktu ku untuk “mempengaruhi” Abak agar segera berhenti merokok. Sangat mulia rencana ku, sedang kini aku baru akan memulai langkah.
***
Enam tahun kemudian..
            Tidak terasa enam tahun sudah aku di Jakarta, walau setiap jelang lebaran selalu pulang basamo ke Padang. Ada banyak kenangan yang terukir di kota ini, terlebih di saat menjalani empat belas stase kepaniteraan klinik selama 2 tahun di RSCM, menghadirkan beragam kisah yang layak untuk diceritakan, nikmat untuk dikenang, tidak untuk diulang. Kota inilah yang memperkenalkan ku dengan tarbiyah, menjalani kesibukan di forum studi islam, dan mempertemukan ku dengan sosok wanita yang ku harap bisa diterima oleh keluarga di kampung.
            Saatnya hari ini kembali ke Padang, menaiki pesawat pagi. Seusai subuh, ketika jalan ibukota masih sedikit sepi, bergegas menuju bandara. Tak sabar rasanya bertemu sanak saudara di kampung, kepulangan ku terakhir 2 tahun lalu sebelum menjalani pendidikan klinik di rumah sakit.
            Terdengar suara pramugari meminta penumpang memasang sabuk pengaman karena sebentar lagi kami akan landing di Bandara International Minangkabau, bandara yang resmi dioperasikan 3 bulan yang lalu. Kemegahannya sudah sangat jelas dari udara, gonjong seperti tanduk kerbau membuatnya terlihat kokoh.
Aku menghela nafas panjang. Lima menit hanya berdiri, terdiam di sini. Di gerbang kepulangan BIM sambil mencari – cari Emak dan Abak.
“Dokter Reza, dokter..”, teriak suara dari kerumunan orang yang sedang menunggu kedatangan anggota keluarganya. Ku lihat ada yang melambaikan tangan. Ku dekati Emak, Abak, Angku Rajo Lelo, dan Tek Pidah. Ku ciumi tangan mereka satu persatu.
“Sudah jadi dokter kau sekarang ya Jang, biar Angku bilang ke orang kampung, kalau engkau tidak boleh dipanggil Bujang lagi, tapi dokter Reza..” sambil menepuk pundak ku..
“Ya Ngku, kalau di kampung, di sapa Bujang mungkin lebih nyaman, Ujang tidak akan berubah, tetap Ujang yang dulu..”, jelasku sambil tersenyum kepada Emak dan Abak.
“Ayo Nak, kita pulang, segan kita dengan Bang Mandah sudah lama nunggu di mobil, tadi kami berangkat dengan mobilnya Mayang Taurai”, ujar Emak sambil mengangkat kardus ditanganku..
“Ya Mak, biar Ujang sendiri yang bawa..”, cegah ku pada Emak.
“Tak apalah Nak, engkau pastilah capek”, kata Abak seraya mengambil koperku.
            Perjalanan ke kampung kami sekitar 1,5 jam dari bandara. Bagi para pelancong, kampung kami “ajaib”, tidak kalah indah dari Bali. Di luar sana hujan mulai turun, ku naikkan kaca mobil. Tidak terlalu banyak perubahan, semua masih pada posisinya masing – masing. Pasangan berteduh karna tidak membawa mantel. Kesibukan masih terlihat di toko yang berdiri sepanjang jalan. Warung – warung tenda makanan masih buka. Hanya jalanan di depan yang terus berganti formasi. Mobil mulai merayap dengan kipas air kaca depan yag terus berderit. Kiri – kanan. Kanan kiri. Membuang bulir air yang tak pernah berhenti menimpa kaca.
            Mobil beringsut seperti keong, ketika bertemu dengan kemacetan perempatan, jalan berlobang atau beberapa tempat yang digenang banjir. Sebuah kijang bergambarkan lambang sebuah maskapai penerbangan lewat. Mungkin mobil antar jemput untuk pilot dan pramugari maskapai itu.
            Ketika mobil mulai masuk di kota Pariaman, hujan mulai reda. Ku lihat betapa gagah tugu Tabuik menyambut kami. Tabuik dirayakan di sepuluh awal Muharram, sebuah patung berbentuk wanita cantik sedang menaiki kuda bersayap, setelah di arak keliling kota, tabuik akan dibuang ke laut tepat di depan pantai gandoriah. Tabuik telah menjadi ikon kota Sala Lauak ini, ribuan pengunjung memadati kota tiap 10 Muharram.
            Tak berapa lama dari pusat kota, tak berapa jauh dari pasar Sungai Limau, mobil memutar ke kiri, menuruni kelokan tajam. Melaju perlahan. Melewati perkebunan kelapa yang tumbuh subur. Udara terasa lembab, ada bekas hujan yang turun tadi siang. Hanya menyisakan rintik air yang jatuh dari nyiur kelapa sepanjang jalan. Menyisakan titik air yang menggumpal di ujung paying yang masih terkembang namun enggan bergulir. Menyisakan titik air di sudut ku. Mata ku tanpa kusadari basah. Akhirnya sampai juga di rumah, tak ada banyak perubahan. Di sini seorang dokter dibesarkan, akhirnya sungguh membuncahkan seluruh perasaan dan kenangan.
***

“Sudahlah, Anakku,” suara Emak menyadarkan Bujang dari lamunan bercampur kemurungan. Wanita itu memegang pundak anaknya dari belakang. Ia lantas duduk di sampingnya.

“Bujang belum bisa menerima keputusan Abak”,  Bujang mengangkat mukanya. Ia memandang lekat wanita bersarung dan berbaju lengan panjang yang duduk di sampingnya itu. Bujang seakan minta dukungan.
“Iya, Bujang. Emak bisa memahami perasaanmu. Emak sangat mendukung pemikiranmu.. Tapi...”, wanita itu menggantung kalimatnya. Ia menghirup udara dalam - dalam lalu menghempaskannya lagi seraya melemparkan pandangannya ke ruang tengah, tempat Abak yang sedang menonton siaran berita.
“Emak tidak bisa menyalahkan Abakmu juga. Kamu kan tahu adat di kampung kita. Dulu Abak mu juga dibeli oleh Kakek mu, PNS saat itu telah dihargai dengan satu motor. Kalau kamu masih ngotot untuk tidak dibeli, jangan harap Abak akan datang di pernikahan mu Nak, ia bilang sangat malu jika anaknya yang terpandang dilepas tanpa harga. Apa lagi engkau seorang dokter.
Bujang kembali terdiam. Dokter berambut hitam tebal itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mencoba untuk mencerna dan menerima setiap kalimat yang dilontarkan oleh Emaknya barusan. Cukup lama. Tapi ia tetap tidak setuju. Ia memandangi Abak yang hanya diam dan tidak mau berkomentar.
“Apa kata orang kampung Nak. Sudah banyak yang datang dan kami pun tidak bisa menerima,  Amak tahu sosok wanita yang engkau idamkan, dan Abak tidak masalah, hanya saja Abak ingin engkau dihargai dengan adat kita. Kau masih ingat dokter Fuad ? Anaknya pak Wali, ia sama seperti mu, akhirnya tidak ada perhelatan, dan sejak itu Fuad jarang pulang kampung. Mungkin karena malu tak menjalankan adat..”, Emak diam sejenak.
“Engkau pikirkan lah dulu semalam ini. Mana yang terbaik menurutmu. Besok engkau mesti memenuhi undangan Kepala Dinas kan..”, tutup Emak.
Tiba-tiba ia merasakan Magribnya menjadi lain dari hari-hari biasa. Ada hawa kepanikan yang berkecamuk menyusup masuk ke dalam kalbunya, dokter Reza Pahlevi alias dokter bujang..
***
Kepada : Abak tercinta
Assalamu’alaikum.ww.wb.
Abak, sebelumnya Ananda minta maaf atas kejadian kemaren, Ananda tidak ingin dicap sebagai anak durhaka. Tapi untuk hal ini, Ananda tidak bisa memenuhi kehendak Abak. Ananda mengerti maksud baik Abak dan Emak, tidak ingin merendahkan martabat keluarga kita, terlebih karena Abak juga sudah diangkat sebagai Datuk.
Terima kasih telah membesarkan Ananda dengan kasih sayang, smoga gelar dokter yang Ananda raih bisa menjadi kebanggaan Abak dan Emak. Inilah buah didikan keras Abak waktu kecil, dan Ananda pun tidak ingin memiliki sekat dengan orang lain khususnya warga kampung kita. Ananda lebih senang disapa Bujang dibanding dokter Reza.
Abak, biarlah orang memandang lain, Ananda sudah memiliki orang yang tepat untuk jadi bagian keluarga kita. Ia sholehah, dan sesuai dengan keinginan Ananda. Berikut Ananda sertakan biodata lengkap dan foto beliau. Kalau dilihat dari ekonomi, ia berasal dari keluarga sederhana, orang tuanya petani. Jika memang aturan Adat harus dipaksakan, tidak akan mungkin keluarganya sanggup membeli Ananda apalagi mesti seharga mobil merek terkenal. Tentu sangat mahal..
Abak, bukankah Adat basandi Syara’, Syara’ basandi Khitabullah. Cukuplah Islam yang menemani perjalanan Ananda ke jenjang pernikahan, dalam rangka ibadah kepada Allah SWT. Semoga Abak dan Emak mengerti maksud Ananda. Sengaja Ananda menulis surat ini, jika bersua Abak dan Emak, agak sulit Ananda menjelaskannya. Wassalam.
                                                                                                  Sembah Sujud Ananda
                                                                                                 Dr. Reza Pahlevi / Bujang
“Mak, Bujang pamit ke kantor Wali, Abak mana ?”, kucium tangan Emak..
“Abak mu sudah berangkat dari tadi pagi, saat engkau di kamar mandi. Ia ada perlu dengan Pak Bustami, yang jadi kepala sekarang di sekolah Abakmu”, jawab Emak..
“Mak, saya titip buat Abak ya..”, seraya ku serahkan amplop berisi biodata ukhti Dilla, lengkap dengan foto dan surat yang ku tulis tadi malam. Nurul Fadhillah, akhwat tamatan ITB yang kini jadi dosen di Kota Padang. Sudah 3 bulan aku mengenalnya, lewat guru mengaji, tepat sebulan menjelang aku wisuda dokter.
“Apa ini Nak ?”
“Surat cinta Ananda, juga ada sosok calon menantu buat Emak”, jawabku beranjak pergi sambil melepas senyum ke arah Emak..

*cerpen karya dr. Poby Karmendra ini terangkum dalam antalogi cerpen Dokter "Bujang" yang diterbitkan oleh Asy-Syifa Jogjakarta pada November 2011 dan telah masuk pada cetakan ke II.

Kamis, 28 Juni 2012

Parfum, Terapi Wewangian Yang Menyehatkan


Pernahkah Anda mendengar istilah “aromatherapy” ? Ternyata penggunaan parfum merupakan salah satu sunnah Rasulullah SAW yang bermanfaat untuk kesehatan. Dalam kebudayaan Islam, penggunaan parfum telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW, yakni abad ke 6 M. Industri parfum saat itu sangat berkembang pesat karena Rasulullah SAW menganjurkan umat muslim untuk menggunakan parfum ketika akan shalat jum’at. 


Dalam hadistnya, Rasulullah SAW bersabda : “Mandi, memotong kuku, mencabut bulu-bulu yang tidak perlu, memakai siwak, mengusap wewangian (parfum) sebisanya pada hari Jum;at dianjurkan bagi laki – laki yang telah baligh”. Seruan ini mendorong para ilmuwan Islam untuk mengembangkan dan memproduksi parfum dalam jumlah besar.

Beruntunglah bagi Anda yang suka menggunakan parfum, selain beribadah ternyata pemakaian wewangian ini juga memiliki efek baik bagi kesehatan. Mengenai aromaterapi, Rasulullah SAW sudah menggunakannya, “Barang siapa ditawari wewangian, janganlah menolaknya, karena wewangian itu semerbakk baunya namun ringan dibawa kemana-mana.. (HR.Muslim)”.

Aroma wangi membuat efek kesehatan dan hidup lebih bergairah sekaligus melancarkan saluran pernafasan dan efektif meredakan berbagai hal yang mencetuskan batuk. Sedangkan bau busuk merupakan pertanda lingkungan tidak sehat, penuh kuman yang mengganggu pernafasan, maka wajar ketika kita masuk ke ruangan yang berbau busuk dengan spontan menutup hidung, kadang sampai sesak nafas dan terbatuk-batuk.

Tahukah Anda, hidung manusia memiliki kemampuan mengenali atau mencium jutaan jenis bebauan baik wangi maupun tak sedap di sekitarnya. Setiap insane dibekali sedikitnya seribu reseptor bau yang berasal dari sel yang menangkap aroma yang ditemukannya, sekaligus mampu melakukan pencampuran atau pencocokkan (mix and match).

Reseptor merupakan bagian dari syaraf yang berperan sebagai penerima rangsangan, sekaligus sebagai pengubah rangsangan yang diterimanya menjadi impuls sensoris. Impuls sensoris inilah yang dikirimkan ke system syaraf pusat di otak. Stimulasi pada suatu reseptor merupakan informasi mengenai terjadinya perubahan dari lingkungan eksternal (luar) dan internal (dalam) tubuh terhadap sistem syaraf pusat. Selanjutnya, sistem syaraf pusat akan mengolahnya dan memberikan jawaban berupa pengaturan yang sesuai, sehingga kelestarian hidup tetap terjamin dan terpelihara kelangsungannya. 

Sementara itu ulama kedokteran Islam terkemuka Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan bahwa bau wangi adalah makanan ruh yang menjadi pusat stamina. Untuk itu stamina juga meningkat melalui wewangian, karena bau wangi dapat membersihkan otak dan jantung serta organ tubuh lainnya. Memakai parfum, menjadi ibadah, menjadi sehat.. J

*disadur dengan pengubahan seperlunya dari bulletin Dawa’ edisi no.7/tahun ke XII/Desember 2011 yang diterbitkan oleh FSKI FK UNAND Padang

Tinjauan Kesehatan : Hari Gini Masih Pacaran ?


Sobat pembaca, tentunya mengetahui apa yang namanya pacaran ? hari Valentine ? mengingat banyaknya budaya berpacaran yang menjadi tren khususnya anak remaja atau dewasa muda. Terkadang acapkali mendiskreditkan orang yang belum berpacaran. Lho ?

Tahukah Anda, bahwa Islam telah mengatur hubungan antara laki – laki dan wanita, antara mahram dan bukan mahram. Allah telah berfirman dalam surat Annisa : 23 yang menjelaskan bahwa mahram seorang laki – laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki – laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk cucu di dalamnya), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka yang termasuk golongan bukan mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak termasuk di dalam ayat di atas.

Kita telah mengetahui dengan jelas, bahwa seorang laki – laki diperbolehkan berkhalwat (berdua-duaan) dengan mahramnya, demikian pula dibolehkan untuk tidak berhijab (tanpa jilbab). Sedangkan untuk yang bukan mahram, sebaliknya. Allah dengan tegas berfirman : “katakanlah kepada orang – orang mukmin laki – laki : hendaklah mereka itu menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya, dan katakanlah kepada orang – orang mukmin perempuan : hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya”.

Pacaran dipandang dari segi kesehatan

Sobat Pembaca, peneliti dari Universitas Valencia menjelaskan berkhalwat dengan wanita yang disukai akan menaikkan sekresi hormone kortisol, hormone ini yang mengatur stress pada tubuh manusia. “cukuplah Anda duduk lima menit dengan seorang wanita, Anda akan memiliki proposi tinggi dalam peningkatan hormone tersebut”, jelasnya.

Para ilmuwan mengatakan bahwa hormone kortisol sangat penting dan berguna bagi tubuh dalam proporsi yang rendah. Jika terjadi peningkatan di dalam tubuh secara berulang, proses tersebut dapat menimbulkan penyakit seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, berefek pada penderita diabetes dan meningkatkan nafsu seksual.

Stress yang tinggi hanya terjadi ketika seseorang laki-laki berkhalwat dengan wanita asing (bukan mahram) dan stress tersebut akan terus meningkat pada saaat wanitanya memiliki daya tarik yang lebih besar. Tentu saja, ketika seorang pria bersama dengan wanita yang merupakan saudaranya sendiri, saudara dekat, atau ibu nya sendiri tidak akan terjadi efek peningkatan hormone kortisol ini. Begitu juga jika pria duduk dengan pria asing, hormone ini tidak akan mengalami peningkatan. Uniknya, hormone ini hanya naik jika duduk berduaan dengan wanita atau pria asing (bukan mahram). Maka jika hal ini terjadi berulang, dapat memperburuk keadaaan dari waktu ke waktu untuk penyakit kronis atau masalah psikologis seperti depresi.

Sobat pembaca, Rasulullah SAW bersabda : “tidaklah ada orang yang seorang laki – laki berkhalwat dengan wanita kecuali setan adalah yang ketiga”. Hadis ini menegaskan diharamkannya berkhalwat bagi pria dengan wanita bukan mahramnya, karena Rasulullah SAW mengingikan umatnya terhindar dari penyakit fisik dan sosial.

Wallahu’alam bishahwab.

*disadur dengan pengubahan seperlunya dari bulletin Dawa’ edisi no.9/tahun ke XII/Februari 2012 yang diterbitkan oleh FSKI FK UNAND Padang

Rabu, 20 Juni 2012

Shalat Tahajud Terbukti Menyehatkan


Perintah bangun tengah malam untuk mengerjakan sholat tahajud terbukti menyehatkan bagi kesehatan tubuh kita. Seringkali orang khawatir jika terbangun dari tidur di malam hari, namun beberapa bukti menunjukkan tidur malam selama delapan jam penuh sebenarnya tidak alami. Hal yang menyehatkan jika tidur setiap empat jam, kemudian terbangun selama satu atau dua jam, dilanjutkan dengan tidur kembali selama empat jam. 

Roger Ekirch, seorang ilmuwan dari Virginia menerbitkan makalah yang disusun dari penelitian selama 16 tahun. Ia mengungkapkan banyak bukti sejarah bahwa manusia di zaman dahulu terbiasa tidur selama dua waktu dalam semalam. Bukunya yang berjudul 'At Day's Close: Night in Times Past' berisi lebih dari 500 referensi pola tidur. Buku ini menggambarkan tidur pertama dimulai sekitar dua jam setelah senja, kemudian terbangun selama satu atau dua jam dan kemudian tidur lagi untuk yang kedua kalinya. Selama periode bangun di antara dua tidur ini, tubuh cukup aktif. Saat ini, kebanyakan orang tampaknya telah beradaptasi untuk tidur selama delapan jam penuh. Tetapi Ekirch percaya bahwa banyaknya gangguan tidur saat ini berasal dari dorongan alami dari tubuh untuk tidur terpotong tiap empat jam sekali. Itulah mengapa banyak orang yang mengaku insomnia kemudian tidak mudah tertidur kembali. 

"Banyak orang bangun di malam hari dan kemudian panik. Saya memberitahu mereka bahwa apa yang mereka alami merupakan pola tidur yang terpisah dan hal itu baik bagi mereka. Lebih dari 30% gangguan kesehatan yang terjadi disebabkan dari tidur, baik langsung maupun tak langsung," ujar Russell Foster, seorang guru besar di bidang neuroscience di Oxford University. Jacobs menunjukkan bahwa periode antara bangun tidur bisa memainkan peran penting bagi manusia untuk mengatur stres secara alami. Jadi, jika terbangun di tengah malam, pikirkanlah kebiasaan orang-orang di masa lampau karena terbangun di tengah malam bisa jadi baik untuk kesehatan, dan menjadi peluang ibadah dengan mengerjakan Qiyamul Lail.

Siwak : Keajaiban Dalam Sunnah Nabi


Siwak sebelumnya telah digunakan dalam berbagai macam kultur dan budaya di seluruh dunia, namun pengaruh penyebaran agama Islam dan penerapannya untuk membersihkan gigi yang paling berpengaruh. Rasulullah SAW bersabda : “Seandainya tidak memberatkan ummatku niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat (dalam riwayat lain : setiap akan berwudhu’).” Selain itu di hadist lain ditemukan : Siwak adalah pembersih mulut dan sebab ridhanya Rabb”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Siwak berfungsi mengikis dan membersihkan bagian dalam mulut, ia lebih dari sekedar menyikat gigi biasa, karena selain memiliki serat batang yang elastis dan tidak merusak gigi walaupun di bawah tekanan yang keras, siwak juga memiliki kandungan alami antimikrobial dan antidecay system (sistem antipembusuk). Batang siwak yang berdiameter kecil, memiliki kemampuan fleksibilitas yang tinggi untuk menekuk ke daerah mulut secara tepat dan dapat mengikis plak pada gigi. Siwak juga aman dan sehat bagi perkembangan gusi. 

El-Mostehy dkk (1998) melaporkan bahwa tanaman siwak mengandung zat-zat antibakterial. Darout et al. (2000) Melaporkan bahwa antimikrobial dan efek pembersih pada miswak telah ditunjukkan oleh variasi kandungan kimiawi yang dapat terdeteksi pada ekstraknya. Efek ini dipercaya berhubungan dengan tingginya kandungan Sodium Klorida dan Pottasium Klorida seperti salvadourea dan salvadorine, saponin, tannin, vitamin C, silika dan resin, juga cyanogenic glycoside dan benzylsothio-cyanate. Hal ini dilaporkan bahwa komponen anionik alami terdapat pada spesies tanaman ini yang mengandung agen antimikrobial yang melawan beberapa bakteri. Nitrat (NO3-) dilaporkan mempengaruhi transportasi aktif porline pada Escherichia coli seperti juga pada aldosa dari E. coli dan Streptococcus faecalis. Nitrat juga mempengaruhi transport aktif oksidasi fosforilasi dan pengambilan oksigen oleh Pseudomonas aeruginosa dan Stapyhylococcus aureus sehingga terhambat. 

Menurut hasil penelitian Gazi et al. (1987) ekstrak kasar batang kayu siwak pada pasta gigi yang dijadikan cairan kumur, dikaji sifat-sifat antiplaknya dan efeknya terhadap komposisi bakteri yang menyusun plak dan menyebabkan penurunan bakteri gram negatif batang.

Siwak juga sangat efektif sebagai alat pembersih mulut. Almas (2002) meneliti perbandingan pengaruh antara ekstrak siwak dengan Chlorhexidine Gluconate (CHX) yang sering digunakan sebagai cairan kumur (mouthwash) dan zat anti plak pada dentin manusia dengan SEM (Scanning Electron Microscopy). Almas melaporkan bahwa 50% ekstrak siwak dan CHX 0,2% memiliki efek yang sama pada dentin manusia, namun ekstrak siwak lebih banyak menghilangkan lapisan noda-noda (Smear layer) pada dentin.

Sebuah penelitian tentang Periodontal Treatment (Perawatan gigi secara berkala) dengan mengambil sampel terhadap 480 orang dewasa berusia 35-65 tahun di kota Makkah dan Jeddah oleh para peneliti dari King Abdul Aziz University Jeddah, menunjukkan bahwa Periodontal Treatment untuk masyarakat Makkah dan Jeddah adalah lebih rendah daripada treatment yang harus diberikan kepada masyarakat di negara lain, hal ini mengindikasikan rendahnya kebutuhan masyarakat Makkah dan Jeddah terhadap Periodontal Treatment

Selain efek-efek higienis, siwak juga menstimulasi BAS (Biologically Active Spots = Titik Aktif Biologis) yang terletak di antara gigi dan gusi. Titik-titik ini mengatur enam organ (telinga, mata, hidung, lidah, dan oesophagus (saluran makanan dari mulut ke perut), tiga pasang cells (wedge shaped, rahang atas, ethmoid), sinus, sendi temporal rahang bawah, dan 28 saraf tulang belakang yang mengatur fungsi-fungsi secara praktis semua organ, otot, dans endi pada ekstremitas atas dan bawah. Titik-titik yang sama mengatur fungsi sejumlah organ seperti empedu dan kantong empedu, liver, ginjal, perut, pancreas, limpa, paru-paru, jantung, usus besar dan usus kecil.

Menurut laporan Lewis (1982), penelitian kimiawi terhadap tanaman ini telah dilakukan semenjak abad ke-19, dan ditemukan sejumlah besar klorida, fluor, trimetilamin dan resin. Kemudian dari hasil penelitian Farooqi dan Srivastava (1990) ditemukan silika, sulfur dan vitamin C. Kandungan kimia tersebut sangat bermanfaat bagi kesehatan gigi dan mulut dimana trimetilamin dan vitamin C membantu penyembuhan dan perbaikan jaringan gusi. Klorida bermanfaat untuk menghilangkan noda pada gigi, sedangkan silika dapat bereaksi sebagai penggosok. Kemudian keberadaan sulfur dikenal dengan rasa hangat dan baunya yang khas, adapun fluorida berguna bagi kesehatan gigi sebagai pencegah terjadinya karies dengan memperkuat lapisan email dan mengurangi larutnya terhadap asam yang dihasilkan oleh bakteri.