Rabu, 25 Januari 2012

Sebening Niat Calon Dokter

Setiap tahun pada proses penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi, jurusan pendidikan dokter menjadi incaran para siswa. Nilai ambang lulusnya pun paling tinggi. Banyaknya peminat mmendorong menculnya fakultas kedokteran swasta atau jalur tambahan di fakultas kedokteran negeri dengan bayaran lumayan besar. Muncul pertanyaan, kenapa banyak yang ingin jadi dokter? Kenapa banyak orangtua ingin anaknya jadi dokter?

Jika tanya pada mahasiswa baru kedokteran, jawaban klasiknya, ”ingin menolong orang yang dalam kesusahan.” Sebuah jawaban tulus dari nurani yang belum terkontaminasi hiruk pikuk dunia yang berpenyakit ini. Demikian juga orangtua, jawabannya ingin anaknya bekerja pada bidang yang penuh pahala, menolong orang yang dalam kesusahan. Sungguh sebuah cita-cita mulia. Namun kenyataannya, setelah menjadi dokter, banyak halangan yang menghambat untuk tetap istiqamah pada tujuan itu.

Dalam sebuah diskusi dengan seorang teman, beliau berkata: lama kita sekolah, ternyata ujungnya hanyalah untuk mencari uang. Bagaikan mutiara yang terkubur lumpur, niat menjadi penyambung tangan Allah untuk bisa membantu pasien mencapai kesembuhan telah terbuang jauh entah kemana. Niat itu larut dalam berbagai kecintaan dunia. Cita-cita luhur telah hilang tatkala jas putih resmi jadi pakaian sehari-hari. Jika begitu, pantaskah simbol putih sebagai lambang kebersihan hati putih berubah menjadi simbol kain kafan pertanda matinya nurani pemakainya?

Apa yang salah? Jawabannya, cinta berlebihan kepada dunia. Cara pandang materialsitis menjadi penghalang utama tetap bertahannya nurani sang dokter. Di sisi lain, masyarakat juga memberikan nilai ganda kalau dokter berhasil itu bergelimang harta. Jika tidak memiliki pijakan kuat agama, tentu akan goyah dengan simbol duniawi tersebut. Pengobatan mungkin jadi mahal atau malah muncul tindakan di luar indikasi medis. Kalau sudah begini, biasanya masyarakat memberikan standar kedua, ”dokter telah kehilangan  nurani”. Pandangan materialistis menandakan hal-hal bersifat duniawi jadi kiblat masyarakat. Kalau dokter tetap ingin pada jalurnya, masyarakat juga harus memperkuat keyakinan dan mengubah pandangan hidup. Yakni, jadikanlah kehidupan sederhana dan bersahaja sebagai nilai tertinggi dalam tata nilai hidup kita.

Sungguh indah di mata manusia perhiasan dunia. Sudah lumrah ketika bertemu kawan lama semasa sekolah, topik hangat pembicaraan berapa banyak pasien sekarang, berapa jumlah operasi bulanan. Yang paling banyak pasien dinilai paling baik dan paling tinggi maqamnya. Bukankah ini sama dengan menyatakan bahwa yang banyak uang itulah yang terbaik. Biasanya pembicaraan sambung menyambung dengan kebanggaan-kebanggan lain, seperti anak, kendaraan, hobi. Perhiasan-perhiasan duniawi itu menjauhkan kita dari Allah SWT.

Surat At Takasur 1-8 ( artinya) : ”dan bermegah-megahan telah melalaikan kamu kepada Allah, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan jangalah begitu kelak kamu akan mengetahui, janganlah begitu jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan Ainul Yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan ( yang kamu bermegah-megahan didunia itu).”

Maka wahai para pejalan dan pencari kebahagiaan hakiki, bukankah indahnya dunia hanya sebelum dimiliki? Keindahan hakiki adalah hati yang selalu diselimuti kasih sayang Allah. Tundukkan kepala dan lihat ke dalam, auskultasilah kalbu kita dengan stetoskop makrifat, apa yang ada di dalam kalbu itu. Periksalah saat shalat, apakah kita masih membuat resep saat shalat, atau malah mendiagnosis penyakit saat shalat atau malah selesai satu tindakan operasi saat shalat. Kalau seperti itu, maka kiblat hati itulah yang kita sembah.

Hilangnya ikatan hati dengan Allah dalam praktik kedokteran akan jadi pintu awal  kerusakan dunia medis ini. Dokter sang penyembuh yang sedang perlu topangan penyembuhan karena hatinya sedang sakit dan terancam kematian (kebutaan). Ingatlah, barang siapa yang buta di dunia, maka akan dibangkitkan di akhirat dalam keadaan buta pula. Dan barangsiapa di dunia ini buta hatinya, maka di akhirat nanti juga akan buta, dan lebih sesat lagi jalannya (QS. Al Israa: 72).

Sesungguhnya ilmu kedokteran itu bagian dari ilmu yang datang dari Allah SWT, maka wajiblah ia mendekatkan diri kepada Allah. Jika tidak begitu, maka ilmu ini tidak lebih dari ilmu untuk mencari makan (ilmu untuk memproduksi ATP/kalori). Kalau kita bisa mengkaji ilmu kedokteran dengan hati, tentunya akan berbuah suatu pemahaman yang sempurna tentang diri. Ingatlah, barang siapa yang kenal akan dirinya maka akan kenal akan tuhannya.

Pemahaman diri bagi para dokter yang mempelajari seluk beluk ilmu tubuh sebagai komponen jasad, komponen somatik atau diri yang terlihat oleh mata baik dengan mata telanjang atau bantuan mikroskop paling canggih sekalipun, tinggal kita mengenal komponen yang tidak tampak yaitu: hati, ruh dan nurani. Ketika kita sudah mengenal komponen tesebut, tentunya pemahaman tentang diri menjadi pengenalan yang tidak ada celahnya. Sehingga, diharapkan akan bermuara pada pengenalan akan Allah SWT. Kajian sang dokter yang mengkaji diri dari satu sel hingga zat Allah SWT. Dengan pendekatan ini, maka hati akan kembali hidup. Dengan demikian, diharapkan niat menyembuhkan hamba yang lagi sakit akan selalu terjaga, rasa ikhlas yang lahir dari hati yang larut dalam makrifatullah. Insya Allah..

*dikutip dari tulisan dr. Etriyel (Staf Pengajar Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Unand) yang dimuat di Padang Ekspres pd Rabu, 25 Januari 2012

Kamis, 28 Juli 2011

Alunan Alqur'an, Indah Menyehatkan



Sudahkah Anda membaca Alqur’an hari ini ? Tahukah Anda jika membaca Alqur’an tidak saja menjadi pedoman hidup bagi manusia, namun di sisi ilmiah juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan manusia. Allah SWT berfirman dalam surat Al Isra : 17, “dan Kami turunkan dari Alqur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang – orang yang beriman dan Alqur’an itu tidaklah menambahkan kepada orang – orang yang zalim selain kerugian”.

Dr. Ahmad Al Qadhi, direktur utama Islamic Medicine for Education and Research yang berpusat di Amerika telah melakukan penelitian tentang pengaruh Alquran pada manusia. Penelitian pertamanya untuk menentukan kemungkinan adanya pengaruh Alquran pada funsig organ tubuh sekaligus mengukur intensitas pengaruhnya. Hasil eksperimennya membuktikan bahwa 97% responden,baik muslim maupun non muslim, baik yang mengerti bahasa Arab ataupun tidak, mengalami beberapa perubahan fisiologis yang menunjukkan tingkat ketegangan urat syaraf reflektif. Hasilnya membuktikan bahwa Alquran memiliki pengaruh yang mampu merelaksasikan ketegangan urat syaraf tersebut. Fakta ini secara tepat terekam dalam detektor elektronik yang bisa mengukur perubahan dari fisiologis organ tubuh.

Dari penelitian tersebut diketahui bahwa ketegangan urat syaraf berpotensi mengurangi daya tahan tubuh yang disebabkan terganggunya keseimbangan fungsi organ dalam tubuh untuk melawan sakit atau membantu proses penyembuhan.

Sementara itu, penelitian selanjutnya bertujuan untuk mengetahui efek relaksasi yang ditimbulkan Alquran pada ketegangan syarat beserta perubahan fisiologis yang mengiringinya benar-benar disebabkan oleh kalimat Alquran sendiri tanpa memandang apakah kalimat-kalimat itu dapat dipahami oleh pendengar atau tidak. Hasil penelitian yang dilakukan oleh dr.Ahmad Al Qadhi dalam kajian ini menunjukkan bahwa Alquran memiliki pengaruh positif untuk menurunkan stress. Pengaruh tersebut dapat dilihat dari bentuk perubahan yang terjadi pada arus listrik otot, perubahan pada sirkulasi darah, serta detak jantung.

Semua perubahan ini menunjukkan adanya perubahan fungsi dan kinerja system syaraf otomatik (reflektif) yang lebih lanjut berpengaruh pada fisiologis organ tubuh. Tidakkah bersyukur, jika Anda membaca dan mengetahui makna yang terkandung di dalamnya. Selain mendapatkan petunjuk, pahala dan menerima efek positif bagi kesehatan Anda. Subhanallah

Selasa, 26 Juli 2011

Air Dingin, Sejuk Menyehatkan



Air menjadi bagian kurang lebih 65-71 persen dari berat total tubuh dan merupakan media tempat berlangsungnya hampir setiap proses tubuh. Kebutuhan tubuh akan air, untuk orang dewasa dengan ukuran tubuh rata-rata yang tinggal di daerah beriklim sedang akan memerlukan kurang lebih 2.500 ml air setiap harinya.

Manfaat air dingin yang sejuk diantaranya dapat menghilangkan rasa panas dengan menetralisir kembali suhu tubuh, melancarkan sirkulasi air dalam tubuh dan keringat dapat keluar dengan baik. Karena itu, banyaklah minum meski tak haus. Demikianlah anjuran buat orang yang tinggal di daerah tropis.

Semakin banyak melakukan aktivitas, air akan lebih banyak dikuras dari tubuh. Apalagi bagi orang yang tinggal di daerah tropis. Bekerja di ruang ber-AC pun menuntut orang untuk minum lebih banyak, sekalipun tidak merasa haus. Sebab di ruangan ber-AC orang akan lebih cepat mengalami dehidrasi. Demikian pula, banyak minumk akan membantu menetralisirkan pengaruh perubahan suhu ruangan.

Tentu itu semua tak sembarang minum, maksudnya minum air putih atau yang lebih dikenal air dokter. Selain khasiatnya tadi, air putih juga menghanyutkan kotoran-kotoran dalam tubuh agar lebih cepat keluar lewat urine. Bagi yang merindukan tubuh lebih langsing, minum air hangat sebelum makan merupakan satu cara untuk mengerem nafsu makan.

Menurut ahli gizi dari Seattle, Susan Kleiner Ph.D banyak minum air putih dapat mengurangi berbagai resiko penyakit berbahaya seperti kanker kandung kemih,colon,dan kanker payu dara.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Seattle Fred Hutchunsen Cancer Reaserch Center, para wanita yang minum lebih dari lima gelas air putih sehari, risiko kanker colonnya menurun sampai 45% dibanding mereka yang hanya minum dua gelas atau kurang per hari.

Martix Fox, seorang peneliti gizi dan lingkungan, dalam bukunya Healthy Water for A Longer Life , memaparkan hasil penelitiannya terhadap penyakit jantung dan kanker. Menurutnya, air sehat adalah yang padat, yaitu yang mengandung kalsium dan magnesium sekitar 300 mg/l dan secara moderat memiliki TDS (Total Disolved Solids) tinggi. Saran terbaik untuk minum air putih adalah minum air putih pada suhu sedang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin sebanyak 6-8 gelas sehari..

Minggu, 24 Juli 2011

Tangani Demam Secara Bijak




Demam merupakan suatu kondisi yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orangtua yang khawatir ketika buah hatinya terserang demam. Tak jarang, orangtua mengambil jalan pintas dengan mengandalkan obat penurun panas tiap kali anaknya mengalami demam. Padahal, tidak setiap kondisi peningkatan suhu serta merta perlu segera ditangani dengan obat.

Demam, bukan penyakit


Banyak orang yang masih beranggapan bahwa demam merupakan penyakit. Maka tidak heran jika orangtua merasa sudah melakukan hal yang benar ketika memberikan obat penurun panas tiap kali suhu tubuh anaknya meningkat. Padahal, demam bukanlah penyakit yang bisa langsung sembuh hanya dengan pemberian obat penurun panas. Demam hanyalah gejala yang muncul untuk menginformasikan bahwa ada sesuatu yang “tidak beres” di dalam tubuh. Oleh karena itu, demam tentu tidak bisa diatas hanya dengan menurunkannya saja, namun harus dicari dan diatasi apa yang sebenarnya menyebabkan munculnya demam tersebut. Demam pada anak umumnya disebabkan oleh batuk, pilek, radang tenggorokan, diare (mencret), infeksi telinga tengah, dan penyakit akibat infeksi bakteri, virus atau kuman lainnya. Demam juga dapat disebabkan oleh dehidrasi (kekurangan cairan), kelainan darah, atau anak berada di tempat yang sangat panas.

Demam ternyata bermanfaat?

Demam seringkali dianggap sebagai penyakit sehingga terkesan merugikan dan menyusahkan. Padahal, sebenarnya banyak sekali manfaat demam bagi tubuh kita. Demam merupakan respon tubuh terhadap kuman, bakteri atau virus yang masuk ke dalam tubuh. Ketika kuman, bakteri, atau virus masuk ke tubuh kita, sel-sel darah putih dalam tubuh memproduksi hormon interleukin yang kemudian berjalan ke otak untuk memberi perintah kepada hypothalamus (pusat pengatur suhu di otak) agar menaikkan suhu tubuh. Hal ini terjadi karena dengan suhu tubuh yang tinggi, sistem pertahanan tubuh akan meningkat dan lebih mampu memerangi infeksi. Demam juga bermanfaat karena dapat menurunkan kadar zat besi dalam tubuh, padahal kuman membutuhkan zat besi untuk hidup dan berkembang. Mekanisme ini dapat melemahkan kuman penyebab infeksi. Manfaat demam yang lain adalah dapat meningkatkan produksi interferon dan bahan antivirus lainnya dalam rangka melawan virus yang masuk ke tubuh kita.

Jangan berlebihan mengkonsumsi obat


Secara umum, demam yang terjadi pada bayi dan anak kebanyakan disebabkan oleh infeksi virus yang bisa sembuh sendiri. Sehingga biasanya obat penurun panas tidak diperlukan, kecuali jika suhu tubuhnya terus meningkat. Beberapa orangtua seringkali terlalu cepat memutuskan untuk memberikan obat pada anaknya. Baru panas sedikit saja, orangtua sudah buru-buru meminumkan obat penurun panas. Padahal, ada aturan dalam meminumkan obat penurun panas. Obat penurun panas hanya diperlukan ketika suhu tubuh memang sudah mencapai 38,5° C atau lebih. Orangtua tidak perlu khawatir ketika anak mengalami demam tapi masih aktif, lincah, dan tetap doyan makan. Adakalanya tubuh mampu mengatasi, sehingga demam bisa turun dengan sendirinya tanpa penggunaan obat sama sekali.

Selain batasan suhu tubuh, orangtua juga harus memperhatikan waktu pemberian. Obat penurun panas seperti parasetamol misalnya, hanya boleh diberikan dengan selang waktu 6 jam. Jika sangat terpaksa, boleh memberikannya dengan selang waktu 4 jam. Seringkali, orangtua yang tidak paham, langsung saja meminumkan parasetamol lagi padahal baru 2 jam yang lalu anak sudah minum parasetamol. Akibatnya, dalam sehari anak meminum penurun panas berkali-kali hanya karena orangtua khawatir suhu tubuh buah hatinya tidak kunjung turun. Padahal, selama penyebab demamnya belum teratasi, demam akan muncul lagi begitu efek obat penurun panasnya hilang. Biasanya, parasetamol berefek 30 menit setelah pemberian sampai 2 jam kemudian.

Apa yang bisa kita lakukan?

Banyak hal yang sebenarnya bisa kita lakukan ketika anak mengalami demam. Tindakan sederhana ini bisa dilakukan di rumah dan insya Allah bermanfaat dalam menangani demam anak kita:
• Ukur suhu tubuh anak menggunakan termometer setiap 4 jam sekali. Pengukuran bisa dilakukan di ketiak, mulut, telinga, atau dubur. Jangan hanya mengandalkan rabaan telapak tangan pada permukaan tubuh anak, karena bisa jadi teraba hangat tapi sebenarnya suhu tubuh anak sudah sangat tinggi.
• Hindarkan anak dari pakaian tebal, jaket, atau selimut, karena justru akan mempersulit hilangnya panas dari tubuh anak kita. Ganti pakaian anak dengan pakaian yang tipis, longgar, dan nyaman dipakai.
• Berikan anak lebih banyak cairan (air minum, jus buah, kuah sayur), supaya tidak terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. Pada bayi atau anak yang masih menyusu, berikan ASI sesering mungkin.
• Usahakan agar anak mau makan. Suapi anak dengan makanan yang dia sukai dan tentunya pilih yang mudah dicerna.
• Beri kesempatan anak untuk beristirahat dengan tenang. Istirahat yang cukup sangat diperlukan untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang lemah.
• Ciptakan kondisi yang sejuk di sekitar anak, dan hindarkan udara atau hawa panas dari anak kita. Pastikan ruangan anak dalam keadaan bersih dan sirkulasi udaranya lancar. Jika perlu, ganti sprei dan sarung bantal-guling dengan yang bersih.
• Jika suhu tubuh anak sangat panas, kompres dengan air hangat pada bagian kening, ketiak leher, dan lipatan paha. Hindarkan mengompres dengan air dingin, hal ini akan menaikkan suhunya karena mengira suhu di luar tubuhnya lebih dingin. Jika kondisi anak masih memungkinkan (tidak dalam kondisi yang sangat lemah), bisa juga dengan merendam anak dengan ember atau bak yang sudah diisi dengan air hangat.
• Waspada terjadinya kejang ketika demam. Segera turunkan demam anak, jangan sampai peningkatan suhu tubuh tersebut memicu terjadinya kejang. Namun orangtua tidak perlu khawatir berlebihan, mengingat kejadian demam yang sampai menyebabkan kejang sangat jarang.
• Berikan obat penurun panas jika suhu tubuh anak mencapai 38,5° atau lebih, dan anak kelihatan rewel atau tidak nyaman. Untuk itu, perlu kiranya orangtua mempunyai persediaan obat penurun panas di kotak obat. Pemberian obat penurun panas harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan dokter. Dosis obat pada anak lebih tepat jika dihitung dengan berpatokan pada berat badan (bukan usia). Oleh karena itu, tanyakan dosis obat pada dokter atau apoteker sebelum meminumkannya pada anak.

Selasa, 05 Juli 2011

Uban, gak perlu dicabut !

Rambut asli orang Indonesia pada umumnya memiliki warna hitam atau gelap karena memiliki kandungan kadar melanin yang lebih tinggi.Timbulnya uban biasanya terkait dengan usia dan kemampuan tubuh untuk memproduksi melanin, sehingga biasanya uban mulai timbul pada usia 40 tahun keatas. Akan tetapi uban dapat muncul pada usia lebih muda karena adanya faktor genetis.

Banyak di antara kita merasa risih bahkan kurang percaya diri karena takut dianggap sudah tua, hingga akhirnya mereka mencabut helai demi helai uban tersebut tanpa memperdulikan hukumnya secara Islam maupun dampaknya secara medis.

Sudut pandang Islam


Mencabut uban hukumnya makruh (dibenci). Rasulullah SAW bersabda :“ Janganlah kalian mencabut uban karena uban itu cahaya seorang muslim. Tidaklah seorang muslim tumbuh ubannya karena (memikirkan) Islam malainkan Allah tulis untuknya (dengan sebab uban tersebut) satu kebaikan, mengangkatnya (dengan sebab uban tersebut) satu derajat, dan menghapus darinya (dengan sebab uban tersebut) satu kesalahan” (HR. Ahmad)

Begitu pula hadits lainnya, “Barangsiapa yang tumbuh ubannya karena (memikirkan) Islam, maka pada hari kiamat nanti dia akan mendapatkan cahaya.”(HR. Tirmidzi)

Sudut pandang Medis

dr. Tjut Meura S. Oebit Edi, SpKJ menjelaskan bahwa pada umumnya, uban memang tidak bisa dikembalikan menjadi hitam, khususnya orangtua, kecuali pada mereka yang menderita gangguan metabolisme. Secara medis, uban juga tidak bisa diobati. Sebaiknya jangan mencabut uban, karena justru akan mengurangi jumlah helai rambut. Akibatnya, rambut malah jadi tipis, sementara jumlah uban tetap.

Menurut ahli dermatologi dari New York, Debra Jaliman, M.D, mengenai tanggapannya tentang uban bahwa hal ini tidak berdampak tumbuhnya uban lebih banyak. Hanya saja, selain akan merusak folikel dan saraf rambut, uban juga akan terlihat lebih outstanding karena berkurangnya jumlah rambut di sekitarnya.

Mencabut uban merupakan kebiasaan buruk karena bisa merusak akar rambut, menyebabkan infeksi atau bahkan borok di bekas cabutan. Sebenarnya pada usia diatas 30 tahun, kebanyakan orang akan mengalami kerontokan dari 80-100 helai setiap hari. Tapi, proses pertumbuhan rambut sangat lambat, sehingga kebanyakan menderita kebotakan.

Air Wudhu Mengatasi Jerawat

Tumbuhnya jerawat dengan warna kemerahan menjadikan wajah tampak semakin manis, menambah pesona dan daya tarik.Bagaimana jika jerawat yang tumbuh berlebihan menjadikan seseorang merasa rendah diri,dan malu dalam pergaulan. Langit tanpa bintang kurang indah. Begitu dengan wajah, tumbuhnya 1 jerawat menambah keindahan. Langit penuh bintang gemerlap dan cahaya bulan temaram menyinari betapa indah alam semesta. Namun tidak halnya dengan wajah berjerawat.

Jerawat membuat resah pemiliknya. Jangan terlalu khawatir dengan hal tersebut. Jerawat timbul karena salah satu hormon diproduksi dalam jumlah besar yang menyebabkan kulit berminyak dan mudah kotor sehingga mudah ditumbuhi jerawat.

Bagaimana mengatasi hal tersebut ? Caranya sangat mudah. Tips yang paling berhasil dan sangat bermanfaat adalah menjaga kebersihan wajah dengan sering mencuci wajah dengan air wudhu. Orang yang selalu menjaga wudhu akan terhindar dari musibah dan penyakit. Jerawat merupakan suatu penyakit. Bagi siapa yang menjaga dirinya selalu punya wudhu atau selalu suci maka akan terhindar dari jerawat dan jika sudah tumbuh jerawat maka akan terobati. Dengan selalu membiasakan diri berwudhu maka wajah kita akan bersih dan jerawat akan hilang dengan sendirinya.

Rabu, 01 Juni 2011

Setengah Dokter

Pasien, yang merupakan makhluk kompleks material spiritual sudah semestinya mendapatkan penanganan penyakit yang lebih holistik. Kesehatan holistik, menurut wikipedia, adalah filosofi kesehatan yang memandang bahwa aspek jasad dan mental adalah dua hal yang berkaitan erat dan sama pentingnya dalam pendekatan terapi.

Tuntunan bagi seorang dokter untuk tampil menangani pasien secara holistik datang dari Islam, yang menempatkan manusia apapun profesi dan posisinya adalah seorang khalifah Allah di bumi. Dalam bukunya, Sang Dokter, Dr Bahar Azwar SpB,Onk menulis bahwa seorang dokter adalah fungsionaris Allah di dunia kesehatan karena sumpah dokter selalu dimulai dengan nama Allah. Dengan begitu maka cara pandang kita terhadap manusia juga harus dengan cara pandang Islami, yang melihat bahwa manusia adalah makhluk tertinggi yang terdiri atas jasad, ruh dan akal yang menjadi satu entitas bernama al insan.

Kedudukan sebagai khalifah medis tentu memiliki tanggung jawab dan kualifikasi tertentu. Dalam buku At Thib an Nabawi (Praktek Kedokteran Nabi, Hikam Pustaka) Ibnul Qayyim al Jauzi menulis begini:

"Hendaknya seorang dokter memilki keahlian di bidang penyakit hati dan ruh serta pengobatannya. Sebab hal itu adalah pangkal yang agung untuk pengobatan badan, sebab terpengaruhnya badan dan sifat alamiahnya oleh jiwa dan hati adalah kenyataan yang telah terbukti. Dokter yang mengetahui berbagai jenis hati dan ruh serta pengobatannya maka ia adalah dokter yang sempurna. Dan yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, meski ia ahli dalam pengobatan segi alamiah dan badaniah maka ia hanyalah setengah dokter. Setiap dokter yang tidak mengobati pasien dengan membersihkan hati pasien itu dan memperbaikinya dan dengan memperkuat ruhnya dengan sedekah dan perbuatan baik, dan dengan mengarahkan perhatian kepada Allah dan akhirat maka ia bukanlah seorang dokter, melainkan seorang yang berlagak dokter yang cacat.

Dari semua pengobatan penyakit, yang paling agung adalah perbuatan baik dan ihsan, ingat Allah dan doa serta sikap penuh kekhusyukan dan memohon kepada Allah serta taubat...Tetapi hal itu sepadan dengan tingkat kesediaan jiwa pribadi dan penerimaannya (ikhlas), serta keyakinan akan manfaatnya."

Begitulah, kalau Hippocrates yang diangap Bapak Kedokteran (500SM) dan para dokter sejamannya menyebut diri Demigod (Manusia Setengah Dewa)dengan segala otoritasnya, justru Islam menuntun para dokter untuk lebih tawadhu' dengan mengemukakan konsep "Setengah Dokter". Ibnul Qayyim secara sadar menyatakan itu sebagai sebuah bentuk taujih (pengarahan) bagi dokter muslim untuk tampil secara holistik dan mengambil peran da'awi (amar ma'ruf nahi munkar) melalui profesinya.

Ia telah mengembang tugas kekhalifahan di wilayah kesehatan dengan baik.Ia telah mengambil alih tugas keseluruhan manusia untuk memelihara kesehatannya. Dalam Al Quran dinyatakan bahwa barangsiapa yang memelihara hidup seorang manusia maka ia menjaga hidup seluruh manusia. Ini karena menurut Imam Al Ghazali tugas belajar kedokteran adalah adalah fardhu kifayah, sebuah kewajiban bagi seluruh manusia yang cukup diwakilkan kepada sebagian orang, dalam hal ini para dokter kejatuhan pulung mengemban amanah agung. Dokter muslim, sungguh agung kedudukannya!

Bila seorang dokter bisa memiliki keahlian medis yang bertanggung jawab, memilki pola pendekatan yang lebih humanis terhadap manusia sebagai insan spiritual, memahami secara cukup masalah hati, tidak memandang pasien sebagai makhluk material semata apalagi menjadikan pasien sebagai sumber perolehan ekonomi, maka ia adalah dokter yang sebenarnya. Dokter yang ahli tetapi miskin nilai spiritual, atau banyak menguasai ilmu agama tetapi tidak kompeten maka ia bukanlah dokter.

Barangkali tidak salah kalau saya menimbrungkan pendapat bahwa antara dokter dengan pasien harus ada 'cinta'. Sebuah formula yang mampu menumbuhkan perhatian, kepedulian, dan tanggung jawab. Bukan hubungan yang transaksional, sekaku hubungan antara penjual dan pembeli, antara penyedia dan pengguna jasa. Mungkin saya salah, tetapi begitulah yang saya pahami.

Hmmm... aku sendiri, makhluk setengah dokter apa seperenambelasnya yah ?

Nb : catatan dr.Hasto Harsono yang senantiasa memberikan inspirasi..